Sehabis Hujan

Aku menatap kosong kedepan, yang ada hanyalah titik-titik air yang jatuh dari atas dan pecah saat menyentuh bumi. Satu tetes, dua tetes, tiga tetes hingga akhirnya tak dapat kuhitung lagi dengan ucapan. Aroma tanah seperti menguap dari tanah merah yang kering dan berdebu.

Aku masih sendiri dan menatap kosong, aku berpikir tak ada yang istimewa dengan ini. Ya, tak ada yang istimewa. Hanya sekedar air yang jatuh dari awan dan biasa kita sebut hujan.

Dibawah halte bus berwarna biru pudar penuh coretan yang saat ini lebih cocok disebut payung masal daripada tempat pemberhentian kendaraan umum.







Dari arah kiriku terdengar suara decakan air, aku menoleh dan tampak seorang remaja perempuan setengah berlari menuju arahku, mungkin seumuran denganku. Sampai halte remaja tersebut seperti tergesa-gesa mengeluarkan telepon selularnya dan seperti mencari sebuah nama dalam phonebooknya. Mungkin ia begitu sibuk hingga tidak mempedulikan aku yang ada tepat disampingnya. Ahh sudahlah mungkin dia tidak tertarik kepadaku atau mungkin ini wajah lain penduduk Jakarta yang semakin apatis.

Gimana gue bisa cepet sampai kampus kalo ujannya deres kaya gini ni, mana tugas gue belum dikumpul lagi. Emang sialan banget ni ujan !!”, ucap remaja tersebut dengan nada setengah teriak seakan memaki keadaan yang jelas-jelas takkan berubah.

Aku hanya geleng-geleng kepala dan berusaha untuk tidak mendengar percakapan remaja tersebut selanjutnya.

Di kejauhan dari arah seberang tampak samar karena bias tetesan hujan terlihat anak kecil berseragam putih merah berlari sambil menenteng sepatu. Hampir seluruh bajunya terlihat basah oleh guyuran hujan.

Dari raut wajahnya tampak begitu gelisah, rasa iba datang begitu saja, aku sedikit membungkuk dan menghampirinya,

hei kenapa kamu sedih?

aku takut dimarahi mama om

kenapa harus takut?

seharian ini aku bolos sekolah dan pergi main bersama teman, aku takut mama marah jika tau aku bolos sekolah

pulanglah, mama kamu pasti sudah mencarimu

Anak itu seperti tak percaya ucapanku, ia hanya menunduk dan menatap ke arah kakinya yang berlumuran tanah basah.

Aku tak melanjutkan pertanyaanku karena takut membuatnya semakin bersalah dan sebisa mungkin mencari kesibukan untuk membunuh waktu yang semakin membosankan. Menunggu takkan menyakitkan tapi pasti memjemukan.

Sebuah angkutan umum berhenti mendadak tepat didepan halte, hampir saja cipratan dari genangan air mengenai celanaku. Dari dalam angkutan umum keluar sosok seorang kakek kurus tinggi mungkin berusia sekitar 60 tahun ikut berteduh pada payung massal kami.

Raut wajahnya tampak tenang sambil tersenyum seakan sangat menikmati keadaan ini.

Aku membuka obrolan dengan kakek itu, “sudah masuk musim hujan lagi ya kek, harus bawa payung kemana-mana kalo begini terus.”, dengan senyum yang mungkin terlihat kupaksakan.

Iya, musim kemarau telah lewat saatnya menikmati musim hujan”, jawabnya hangat.

Menikmati?? Bukankah jika musim hujan tiba semuanya jadi serba ribet.”, tanyaku kebingungan.

Semua yang terjadi pasti ada yang mengatur dan mamiliki tujuan hanya saja penalaran manusia yang masih terlalu dangkal untuk memahami itu”, jawab kakek tenang.

Tapi semua terjadi apa membawa kebaikan??”, tanyaku penasaran

Seperti yang tadi kukatakan semua pasti memiliki tujuan, kita hanya perlu menikmati itu. Tak mungkin kita memadamkan matahari hanya karena kita merasa terlalu terik. Begitu pula tidak mungkin kita menyingkirkan semua awan kelabu hanya karena kita tidak suka pakaian kita basah oleh hujan.

Aku hanya terdiam mendengar jawaban kakek itu.

Samar-samar terdengar suara dering handphone, remaja perempuan yang dari tadi mondar mandir di depanku akhirnya menghentikan langkahnya, bergegas merogoh handphone di saku celananya

Entah apa obrolan antara remaja tersebut dengan orang diseberang sana yang menghubunginya, tak ada suara yang terdengar. Jikapun terdengar aku sudah enggan mendengar keluhan wanita ini. Namun, setelah obrolan itu remaja tersebut hanya tertunduk.

Jauh berkilo-kilometer dari halte ini, terjadi tawuran antar mahasiswa didepan salah satu kampus di Jakarta. Beberapa mahasiswa terluka cukup parah sehingga tidak ada kegiatan perkuliahan hari itu.

Sore ini langit terlihat lebih gelap dari yang seharusnya, hitam kemerahan bercampur sinar senja matahari. 

Lukisan alam ini terlalu sayang untuk dilewatkan.

Beberrapa menit kemudian, tampak seorang ibu paruh baya berlari tergesa-gesa dan memeluk anak di sampingku, matanya terlihat berkaca-kaca.

Ibu gelisah nak mencari kamu, kamu kemana saja seharian ini?”, terdengar suara lirih sambil menahan tangis.

Anak tersebut tak mampu manjawab, hanya ikut menangis.

Ayo kita pulang, ibu sudah mambuat kentang goreng. Bukankah itu kesukaan kamu?

Kaduanya tampak tersenyum lepas dengan mata yang terlihat berkaca-kaca, terlihat kontras memang.

Hujan sudah reda, hanya menyisakan langit yang masih gelap dengan cahaya kemerahan diujung barat.

Kakek disampingku bangun dari duduknya sambil sambil tersenyum kepadaku dan berkata,”Ingat nak, nalar manusia terlalu dangkal untuk memahami rencana Tuhan.

Komentar